Ketika perusahaan mulai memiliki banyak cabang, gudang, atau titik distribusi, pertanyaan mengenai jumlah armada menjadi semakin penting. Terlalu sedikit kendaraan menyebabkan keterlambatan dan overtime. Terlalu banyak kendaraan justru membuat aset menganggur dan biaya tetap membengkak.
Karena itu, menentukan jumlah armada Hino tidak sebaiknya dilakukan berdasarkan perkiraan semata. Perusahaan perlu menghitung rute, frekuensi pengiriman, volume barang, waktu perjalanan, kapasitas kendaraan, dan cadangan operasional.
Mengapa Jumlah Armada Harus Dihitung?
Kendaraan operasional merupakan aset dengan biaya yang terus berjalan. Cicilan atau depresiasi, pajak, perawatan, pengemudi, asuransi, dan tempat parkir tetap menjadi beban meskipun kendaraan tidak digunakan maksimal.
Sebaliknya, kekurangan armada dapat menyebabkan:
- pengiriman terlambat,
- jumlah perjalanan terlalu tinggi,
- pengemudi overtime,
- sewa kendaraan tambahan,
- penumpukan barang di gudang,
- hilangnya kapasitas penjualan.
Tujuan Fleet Planning
Bukan mencari sebanyak mungkin kendaraan, melainkan mencari jumlah kendaraan minimum yang mampu memenuhi kebutuhan distribusi dengan tingkat layanan yang ditargetkan perusahaan.
Langkah 1: Hitung Volume Pengiriman Harian
Mulailah dari data barang. Perusahaan perlu mengetahui rata-rata volume dan berat barang yang harus dikirim setiap hari.
Jangan hanya menggunakan rata-rata bulanan karena distribusi sering memiliki hari sibuk tertentu. Gunakan juga data peak season agar armada tidak langsung kewalahan ketika permintaan naik.
Langkah 2: Mapping Seluruh Rute
Kelompokkan rute berdasarkan karakter operasional.
| Jenis Rute | Karakter | Armada yang Dapat Dipertimbangkan |
|---|---|---|
| Dalam kota multi-drop | Banyak titik, jarak relatif pendek | Hino 300 |
| Gudang ke cabang | Volume menengah, perjalanan terjadwal | Hino 300 / Hino 500 sesuai muatan |
| Antar kota volume besar | Jarak jauh dan konsolidasi barang | Hino 500 |
| Proyek / industri | Muatan berat atau karoseri khusus | Hino 500 atau konfigurasi sesuai kebutuhan |
Langkah 3: Hitung Waktu Siklus Kendaraan
Satu kendaraan tidak selalu bisa melakukan jumlah perjalanan yang sama setiap hari. Hitung total waktu sejak kendaraan berangkat sampai siap digunakan kembali.
Waktu siklus meliputi:
- loading,
- perjalanan menuju tujuan,
- antrean,
- bongkar barang,
- perjalanan kembali,
- administrasi,
- waktu persiapan trip berikutnya.
Jika satu siklus membutuhkan hampir seluruh jam kerja, maka secara praktis satu kendaraan hanya mampu melakukan satu trip utama per hari.
Langkah 4: Tentukan Kelas Kendaraan
Setelah mengetahui muatan dan rute, perusahaan dapat menentukan apakah pekerjaan lebih cocok menggunakan Hino 300 atau Hino 500.
Hino 300 dapat diarahkan untuk distribusi kota, retail, FMCG, dan kebutuhan multi-drop. Hino 500 lebih relevan untuk volume besar, rute berat, distribusi antar kota, atau karoseri yang lebih besar.
Bandingkan Hino 300
Lihat pilihan chassis Hino 300 untuk distribusi dan armada operasional perusahaan.
Hino 300 SeriesBandingkan Hino 500
Lihat pilihan Hino 500 untuk angkutan berat, distribusi antar kota, dan kebutuhan industri.
Hino 500 SeriesLangkah 5: Hitung Jumlah Kendaraan Produktif
Secara sederhana, perusahaan dapat menghitung kebutuhan kendaraan dari jumlah total pekerjaan yang harus diselesaikan dibanding kapasitas produktif satu kendaraan.
Misalnya perusahaan membutuhkan 20 pengiriman per hari dan satu kendaraan rata-rata dapat menyelesaikan empat pengiriman sesuai rute yang ditetapkan, maka kebutuhan dasar berada di sekitar lima kendaraan produktif.
Namun angka tersebut belum memasukkan cadangan.
Langkah 6: Siapkan Armada Cadangan
Dalam operasi nyata, tidak seluruh kendaraan tersedia setiap hari. Ada kendaraan yang masuk servis berkala, mengalami perbaikan, atau tidak dapat digunakan karena kondisi tertentu.
Fleet manager perlu menentukan safety margin berdasarkan tingkat kritis distribusi perusahaan.
Distribusi bahan baku pabrik yang harus berjalan setiap hari tentu memiliki kebutuhan cadangan berbeda dibanding pengiriman yang bisa dijadwalkan ulang.
Jangan Memaksakan Satu Tipe untuk Semua Cabang
Perusahaan multi-cabang sering tergoda melakukan standardisasi total karena mempermudah perawatan dan administrasi. Standardisasi memang bagus, tetapi tidak harus berarti semua cabang memakai kelas kendaraan yang sama.
Cabang perkotaan mungkin lebih efektif menggunakan Hino 300. Distribution center dengan volume besar dapat memakai Hino 500 untuk mengirim barang antar wilayah.
Yang perlu distandardisasi adalah prinsip pengadaan, maintenance, SOP, dan kelompok kendaraan. Bukan memaksa satu chassis melakukan semua pekerjaan di bumi.
Gunakan Data Utilisasi Setelah Armada Berjalan
Setelah jumlah armada ditentukan, evaluasi setiap bulan.
Data yang sebaiknya dipantau:
- kilometer per kendaraan,
- jumlah trip,
- persentase muatan,
- jam operasional,
- downtime,
- biaya maintenance,
- biaya per pengiriman,
- on-time delivery.
Dari sini perusahaan bisa melihat apakah armada kurang, berlebihan, atau salah komposisi.
Kapan Harus Menambah Hino 300?
Penambahan Hino 300 dapat dipertimbangkan ketika permintaan distribusi lokal meningkat, titik pengiriman bertambah, atau pekerjaan multi-drop sudah melebihi kapasitas armada yang tersedia.
Kapan Harus Menambah Hino 500?
Hino 500 dapat dipertimbangkan ketika volume antar gudang meningkat, jumlah perjalanan berat semakin tinggi, atau perusahaan ingin melakukan konsolidasi muatan agar distribusi jarak jauh lebih produktif.
Konsultasi Perencanaan Armada Hino
Diskusikan kebutuhan Hino 300 atau Hino 500 berdasarkan jumlah cabang, rute, muatan, dan pola distribusi perusahaan.
Konsultasi via WhatsAppKesimpulan
Menentukan jumlah armada Hino untuk perusahaan multi-cabang membutuhkan data operasional. Mulailah dari volume barang, mapping rute, waktu siklus kendaraan, kapasitas per trip, lalu tentukan kombinasi Hino 300 dan Hino 500 yang paling sesuai.
Tujuannya bukan memiliki armada sebanyak mungkin, melainkan menciptakan sistem distribusi yang mampu memenuhi kebutuhan perusahaan dengan utilisasi aset yang sehat.